Rajo Mudo Rajo Megat Sutan Saktai Rajo Jonggor

Tuanku Rajo Bagindo, alias adalah putra dari Putri Silindung Bulan ( Puti Reno Bungsu)  dari pernikahannya dengan Dewang Pandan Putowano (Gelar Tuanku Marajo Sati I), Beliau adik dari Puti Sipanjang Rambuik II ( gelar Yang Dipertuan Putri Rajo Alam Minangkabau) yang ditugaskan oleh kerajaan Paguruyung sebagai Raja Ke I kerajaan Jang Tiang Pat/ Pat Petuloi di Renah Sekalawi dengan gelar Rajo Mudo Rajo Megat Sutan Saktai Rajo Jonggor, sebelumnya beliau menjabat sebagai menteri kehakiman/penasihat raja di istana pagaruyung.Beliau memiliki ketangguhan dan kesaktian dan bijaksana dalam memimpin balai sidang. Saat dinobatkan sebagai raja beliau dinikahkan dengan Putri Dayang Gilang (adik/saudara Rio Bitang), dari pernikahannya diperoleh keturunan: Putri Bungsu, Putri Senggang, Tuan Setio Kelawang. Di akhir masa kepimpinannya berhasil bertemu kembali dengan cucunya Sutan Sarduni, setelah menyerahkan kekuasaannya pada cucunya beliau raib, di Gunung Besar Ulu Lais dan tidak kembali ke Pagarruyung (wallahu a’lam bi shawab)

(dikisahkan sebagai wacanam dikutip dari tembo2 turun temurun suku VIII dan suku IX, disemelako, dan muara aman Lebong..dan disadur dari catatan2 sejarah yang terkait)

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Raja-raja Renah Sekalawi

Tuanku Rajo Bagindo Gelar Rajo Mudo Rajo Megat Sutan Saktai Rajo Jonggor
          Rajo Jang Tiang Pat Lemo Ngen Rajo Ke I

    Suku rejang adalah benar-benar suku yang memiliki asal mula jadinya, dan bukan suku yang tak tentu datangnya, dibuktikan dengan adanya tulisan sendiri berupa aksara kaganga dan adat istiadat yang terpelihara turun temurun. Mereka yang terdiri dari dari kaum pendatang dari kalimantan yang merejang (berjalan) ke negeri Pinang Balapis (Renah Sekalawi, sekarang kab. Lebong). Dibuktikan dengan adanya kesamaan budaya dan adanya sungai Rejang di Sarawak. Rombongan yang datang dari seberang itu adalah
1.Begeleng Mato
2.Rio Bitang
3.Rio Jengan
4.Rio Sabu
Dan mereka dididampingi dengan hulubalangnya masing-masing, yaitu:
1.Tiak Jeningan
2.Tiak Jadam
3.Gajah Madau
4.Singoparai
Mereka membuka dusun-dusun baru sebagai tempat pemukiman mereka seperti:
1. Rio Bitang beserta pengiringnya membuka tanah di atas tebing sekitarnya dan memelihara
    sarang burung layang-layang di sekandau.
2. Rio Jenggan beserta pengiringnya membuka tanah di Suko Negeri Tapus dan sekitarnya
    sambil menjaga tambang mas di Tebo Lekenei
3. Rio Sabu beserta pengiringnya membuka tanah di Kuto Rukem Tes sambil menjaga tambang
    tambang mas di Simpang (Lebong Simpang)
4. Begeleng Mato beserta pengiring membuka tanah di Pelabai Bendar Agung Lebong sambil
    menjaga tambang mas di Renah Sekalawi Lebong.

Dan selanjutnya datang pula rombongan dari kerajaan Majapahit yang ingin menyiarkan ajaran Hindu di sana, meski kenyataan suku Jang akhirnya hampir 100% beragama islam namun pengaruh ajaran Hindu pada awal-awalnya masih sangat kental dengan adanya upacara-upacara adat dan kepercayaan-kepercayaan yang makin hari mulai meluntur beriring dengan berkembangnya ajaran islam yang cukup pesat disana yang dibawa dari Padang Sumatra Barat dibuktikan berdirinya organisasi keislaman yang dibawa oleh NU dan Muhammadiyah disana. Rombongan yang datang dari majapahit itu adalah:
1. Biku Bembo
2. Sepanjang Djiwo
3. Biku Bermano
4. Biku Bejenggo
Dan pendatang dari Hindia Selatan, dengan adanya viara-viara milik suku cina daratan yang menetap disana.Adanya perkawinan antara pendatang majapahit dan pendatang kalimantan, dan cina daratan, membuat keturunan mereka semakin beranak pinak, dan bahasa mereka pun bercampur (asimilasi) dengan sempurna. Sehubungan dengan berkembangnya keturunan mereka dengan pesat, dengan terbentuknya dusun-dusun baru, yang masing-masing dusun dipimpin oleh ajai-ajai masing-masing dari mana mereka berasal .Maka diperlukanlah peraturan yang dapat mengatur  segala kehendak dan kenyamanan hidup bermasyarakat disana. Sekaligus menentukan batas wilayah kekuasaan dari masing-masing ajai yang memimpin disana.Pemufakatan pun dilakukan dengan mengutus wakil ke kerajaan Pagarruyung mengingat Renah Sekalawi secara geogravis termasuk wilayah kerajaan Pagarruyung.Pagarruyung pun mengirim utusannya ke Renah Sekalawi sebagai wakil pemerintahannya di sana. Hasil musyawarah dan mufakat pun dicapai dengan  bersatunya ajai-ajai dalam satu wadah kekuasaan kerajaan jang disana, dengan ketentuan sebagai berikut:
1.Ajai Begeleng Mato terpilih sebagai Petuloi I sebagai Jang Tiang I yang berkuasa penuh di
   Renah Sekalawi dengan kedudukan sebagai staf membantu raja di kerajaan di Bendar Agung,
   Renah Sekalawi.
2.Ajai Rio Bitang terpilih sebagai Petuloi II sebagai Jang Tiang II yang berkuasa penuh di atas
   Tebing (tebing atas)
3. Ajai Rio Jenggan terpilih sebagai Petuloi III sebagai Jang Tiang III yang berkuasa penuh
    di Suko Negeri Tapus
4. Ajai Rio Sabu terpilih sebagai Petuloi IV sebagai Jang Tiang IV yang berkuasa penuh di Kuto
    Rukem Tes
5. Ditetapkannya oleh kerajaan Pagaruyung, Tuanku Rajo Bagindo sebagai Rajo Jang Tiang
    Pat yang pertama dengan gelar Rajo Mudo Rajo Megat, karena beliau orang yang cakap
    dan sakti, gelarnyapun bertambah menjadi Rajo Mudo Rajo Megat Sutan Saktai Rajo
    Jonggor.
6. Berdirinya kerajaan Jang Tiang Pat Lemo Ngen Rajo (Kerajaan Jang Tiang Pat Lima dengan
    Raja) yang kemudian berkembang menjadi Jang Pat Petuloi, dengan wilayah kekuasaan
    sampai ke Sangir, sungai Pagu, bersebelahan dengan Sungai Ngiyang.

Keterangan:
    Jang = suku rejang
    Tiang= Pilar/pemimpin
     Pat   = empat
     Petu = pintu
     Loi    = besar
     Ajai   = orang yang mulia/haji
Sesuai peraturan yang beralaku raja yang terpilih memimpin kerajaan haruslah beristri, maka Tuanku Rajo Bagindo pun dinikahkan dengan Putri Dayang Gilang, saudara perempuan
Rio Bitang di Pelabai.

 

 

 

Posted in Uncategorized | 2 Comments

Rajo Jang Tiang Pat Ke II, Sutan Sarduni gelar Rio Mawang

Rajo Jang Tiang Pat Ke II, Sutan Sarduni gelar Rio Mawang.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Rajo Jang Tiang Pat Ke II, Sutan Sarduni gelar Rio Mawang

Dalam kisah cindur mato,  Dang Tuanku Sultan Remendung bin Hyang IndoJati alias Bujang Salamat/Selamat Panjang Gombak,  beserta istri  Puti Bungsu.dan ibunya bundo kanduang (Putri Si Panjang Rambuik II) yg diberitakan mengkirab  pada  kenyataannya, tercatat dalam sejarah nama Dang Tuanku Remendung sebagai Raja di Indropuro (1520-1524). Mereka berputra Sutan Sarduni, dan Putri Sariduni. Sutan Sarduni tumbuh sebagai anak yang bijak dan cakap, saat dewasa terdengar olehnya berita tentang Sutan Saktai Raja Jonggor yang sakti sebagai kakeknya. Hingga suatu hari bertanyalah  Sutan Sarduni muda pada ibunya Puti Bungsu tentang keberadaan kakeknya. “Ibunda tercinta, ananda mendengar kabar di luar istana tentang Sutan Saktai yang sakti sebagai kakekku” tanya pangeran muda itu penuh harapan jawaban dari sang bunda yang nampak sangat terkejut oleh pertanyaan putranya yang terlalu tiba-tiba. Namun kebenaran memang harus tetap diungkapka, dan Puti Bungsu membenarkan bahwa Sutan Saktai Raja Jonggor adalah kakeknya yang menjadi raja di Renah Sekalawi. Nampak beban berat diwajahnya saat ia membenarkan berita itu.
“Berita itu benar anakku, beliau memang ayahandaku, yang berarti beliau adalah kakekmu. Hanya karena suatu sebab semua mesti dikubur rapat-rapat agar keselamatan keturunan kita tetap aman. Tapi serapat ibunda menutup mulut apa daya kabar angin datangnya bisa lebih cepat dari yang bunda kira. Semoga rakyat kita disini bersedia menutup berita itu sampai masanya nanti bisa diungkap.” jawaban Puti Bungsu penuh pilu dihatinya dan rindu mendengar nama ayahandanya disebut.
“Ibunda ijinkan ananda pergi menemuinya, ananda ingin bisa mengenalnya dan melihat keberadaanya” Sutan Sarduni membungkuk mencium kaki Puti Bungsu.
“Bangunlah anakku..bunda mengijinkan dirimu bertemu dengannya dan kembalilah untuk ibu suatu hari nanti..” dengan berat Puti Bungsu mengijinkan pangeran muda itu pergi mencari sang kakek.
“Terimakasih ibunda., doakan ananda selamat sampai tujuan, namun bagaimana memberi tahukan beliau kalau ananda adalah cucunya?’ keraguan menyelinap sesaat dibenak pangeran muda itu. Puti Bungsu pun berfikir saat pergi mengkirab ia tak membawa apapun yang bisa dijadikan tanda mata buat keturunannya kelak. Ia mengeluarkan selembar saputangan merah darah berukir sulaman dan terukir namanya disudutnya dengan benang emas.
“Maafkan ibunda tak mampu memebrikan sesuatu bukti padamu kecuali sebuah kebenaran sejarah putraku, namun bawalah ini sebagai tanda mata dari bunda untukmu. Perlihatkan ini pada kakekmu. Semoga beliau dengan kesaktiannya bisa mengenali dirimu sebagai cucunya.” Dengan penuh kesedihan dan kepiluan ia pun menyerahkan selembar  saputangan merah itu pada putranya. Setelah gelap, Sutan Sarduni pun pergi meninggalkan ayah ibunya agar tak diketahui oleh banyak orang, adiknya Putri Sariduni sudah tertidur pulas. Ia memandangi adiknya penuh kesedihan.
“Adinda, jagalah ayah dan bunda kita. Biarlah kelak sejarah yang akan mempertemukan kita dikemudian hari” dicium kening adiknya. Dan segera mengendap keluar istana.

Sutan Sarduni berangkat tak tentu arahnya karena ia tak tahu dimana Renah Sekalawi berada, banyak bertanya pada setiap orang yang ditemuinya setelah keluar dari wilayah kediamannya. Dan ia menuruti kata hatinya dengan menyusuri pantai laut arah ke Selatan, sampailah ia di Sungai Muara Ketahun. Tentu saja perjalanannya memakan waktu yang cukup lama, masuk hutan keluar hutan belukar. Akhirnya  sampailah ia digunung yang cukup tinggi yakni gunung Resan.  Bermalamlah ia disana karena terlampau lelah berjalan. Dalam tidurnya ia bermimpi didatangi oleh seorang tua yang memberitahukan keberadaan kakeknya Sutan Saktai Raja Jonggor.
“Cucuku, palingkan wajahmu ke arah timur, karena disitulah kakemu mengadakan sidang.Pergilah ke temnpat itu bila ingin bertemu dengannya.”
“Baik kek, maaf tapi siapakah dirimu..kakek..kakek” ia terbangun dan terkejut ternyata ia bermimpi namun nampak sangat nyata adanya. Sejenak ia merenungi ucapan sang kakek, dan ia memutuskan untuk mengikuti petunjuk dari kakek tersebut.

Ia melanjutkan perjalanan menuju ke tempat itu yang menurut penduduk yang ditemuinya dijalan jauhnya  berjarak kira-kira 12 KM. Akhirnya sebelum sore sampailah ia di sebuah kampung yang sudah masuk wilayah Renah Sekalawi. Ia menanyakan pada penduduk apa nama kampung ini, kenapa banyak orang yang terlebong disini.
“Permisi sanok, ngapo banyak orang telebong disini. Maaf apo namo kampung ko”Menjawablah penduduk bahwa kampung itu.
“Kampung ko bernamo Renah Sekalawi.Banyak orang telebong ko kerno rajo kami la besidang kek pemimpin pemimpin Pat Petuloi, Pemimpin Tiang Pat”
“”oh cam itu yo mokasih sanok, amb nak pai ke sano dulu” betapa girang hati Sutan Sarduni mendengar penjelasan penduduk tadi, itu artinya ia akan segera bertemu dengan sang kakek dengan segera. Dengan bergegas ia segera pergi menuju ke sana.Nampak lah tempat yang dimaksud, dengan tanpa ragu ia segera masuk saja.Namun ketika sampai di Pintu masuk balaiirung, ia dicegat oleh hulubalang penjaga pintu, dan ditangkap dibawa menghadap ke Rajo Renah Sekalawi. Rajo sedang memimpin sidang, menghentikan sidang dengan seketika, dengan terheran ia memandang ke arah anak muda  yang dibawa oleh sang pengawal itu.
“Hai pengawal, ada gerangan kau menghadap. Tidakkah kau melihat diriku yang sedang memimpin persidangan ini”.tanya san baginda Rajo Tiang Pat I dengan bijak dan penuh tanda tanya. Nampak wajah tuanya menyiratkan kebijaksanaan yang dimilikinya, gan gurat kelelahan diwajahnya. Namun beliau tetap nampak gagah dengan baju raja yang sederhana dengan mencirikan khas adat istiadat setempat. Sejak kisah cindur mato terputuslah hubungan kekerabatan dengan pagaruyung. Renah Sekalawi mengganti sistem kerajaan yang berdiri sendiri dengan menobatkan beliau sebagai Rajo Tiang Pat I dengan nama Rajo Mudo Rajo Megat Sutan Saktai Rajo Jonggor, dan lebih dikenal dengan nama Rajo Megat Sutan Saktai Rajo Jonggor, dan kerajaan di Renah Sekalawipun disatukan kedalam ikatan keluarga Kerajaan Jang Pat Petuloi Lemo ngen Rajo, dg ini menggugurkan beliau sebagai bandaro nagari dari pagaruyung tetapi resmi menjadi pemimpin raja2 dari kerajaan jang pat petuloi lima dengan raja (kerajaan 4 pemimpin lima dengan rajanya).
Pengawal itu tertunduk penuh takut, sementara anak muda itu pun bersujud dan berkata:
“maafkan hamba tuan yang berkuaso, hamba bernamo Sutan Sarduni, putro dari Dang Tuanku Sultan Remendung dari ibunda Puti Bungsu dari Indropuro. Tetapi orang tua hamba dulu berasal dari tanah Pagaruyung. Adapun tujuan hamba ingin bertemu dengan kakeku yang bernama Rajo Megat Sutan Saktai Rajo Jonggor.”ujar Sutan Sarduni penuh hormat, karena sudah mengira laki-laki tua  itulah kakeknya. Sungguh terkejut wajah sang kakek, begitupun semua yang hadir mengingat kisah dimasa lampau yang menyisakan pilu dihati masyarakat Renah Sekalawi hingga tak ada kabar dimana keberadaan Puti Mahkota, Puti Bungsu berada. Dan Tuhan mengabulkan doanya dengan menghadirkan seorang pangeran muda yang gagah dan tampan, wajahnya bulat penuh alisnya tebal bibirnya sempurna kulitnya putih, dan cukup tinggi, benar-benar tampan cucunya, ia mirip dengan ibunya Puti Bungsu. Betapa kerinduan tak bisa ditahan namun wibawa tetap harus dijaga.
“Oh benarkah itu,dirimu putro Puti Bungsu. Apa dirimu bisa membuktikannya? tanya sang kakek Rajo Megat dengan penuh selidik meski hatinya sudah membenarkan dengan kesaktiannya ia mampu merasakan pesan yang disampaikan oleh putrinya Puti Bungsu, dan tanya sang kakek sungguh mengejutkan semua yang hadir di balai sidang. Namun tanpa gentar pemuda itu pun berkata..
“Benar tuanku, hambalah putro sulung dari bundo Puti Bungsu. Bundo menitipkan sesuatu sebagi tando mato untuk ananda.Inilah selampek merah bertuliskan namo ibundo tuanku” anak mudo nan gagah maju ke depan balai sidang mendekati sang kakek mengulurkan sapu tangan merah bersulam emas bertuliskan nama ibundanya. Raja pun terkejut karena sangat mengenali tulisan indah itu sebagai tulisan putri mahkotanya. Penuh haru didekapnya saputangan merah itu ke dadanya. Menitiklah air matanya dipelupuk mata dan bersyukur ternyata putrinya masih hidup dan selamat dari kejaran rajo tiang bungkuk.
“Ternyata kau benar cucuku anak muda.bangunlah..” sang kakek menepuk pundak cucunya penuh kasih dan rindu yang dalam. Setelah sekian lama tiada berkhabar dari putrinya, tiba-tiba muncullah pangeran tampan dihadapannya dan dihadapan muka sidang yang sedang berjalan. Mereka semua yang telebong (berkumpul) menyaksikan itu penuh haru dan syukur. Dan memberikan kabar berita yang gembira setelah suram memikirkan siapakah kelak yang akan menggantikan sang raja dikemudian hari.

Selama Sutan Sarduni berada bersama kakeknya di Renah Sekalawi, ia menampakkan kecakapan, kecerdasan dalam mengatur dan ikut mengendalikan pemerintahan. Sehingga masing-masing Tiang Pat menaruh simpati kepadanya. Gerak yang tangkas, sikap yang bijak dan adil dalam menyelesaikan tugas-tugas kerajaan yang dibebankan kepadanya oleh sang kakek mampu membuat sang kakek mengambil keputusan segera menyerahkan tampuk pimpinan Rajo Tiang Pat Petuloi kepadanya. Dan dia dinobatkan sebagai Raja Jang Tiang Pat Lemo Ngen Rajo yang ke II dengan gelar RIO MAWANG.
Setelah Rio Mawang naik tahta dan untuk menguatkan kedudukannya di Renah Sekalawi Rio Mawang dinikahkan dengan Putri Sindaraya binti Rio Malang (ajai Malang) pimpinan suku jang di Kutu Baru Sentan diPelabai. Dan sang kakek yang sudah mengundurkan diri menjadi raja sejoyanya kembali ke Pagaruyung, namun menurut riwayat beliau memilih raib di Gunung Besar Ulu Lais. (Wallahu a’lam)

Keturunan Sutan Sarduni gelar Rio Mawang

1. Ki Geto
2. Ki Tago
3. Ki Ain
4. Ki Genain
5. Ki Nio
6. Ki Karang Nio
7. Putri Serindang Bulen (Sebei Lebong)

kisah ini ditulis sebagai wacana pengetahuan untuk seluruh masyarakat Renah Sekalawi (kab. Lebong) mohon maaf atas ketidaksempunaan dalam pemaparan kisah dan cerita.

(dari berbagai sumber, dan tembo2 keluarga milik kel Abdul Muis, Semelako, dan catatan sejarah yg disusun Harun Nur Rasyid, )

Posted in Uncategorized | 1 Comment

silsilah sultan remendung

sultan remendung berwajah tampan secara ghoib keseharia terlihat beliau memaka pakaian hitam hitam ada ikat kepala seperti udeng yang kelopaknya ke depan, tapi terkadang nampak memakai jubah kebesarannya berwarna hitam dan lebar ..wajahnya sepintas mirip aktor
Hary Capri.. (maaf kalo salah mengingat)…

asal usul Sultan Remendung..

      Adwayabrahma  menikah  dengan Dara Jingga binti Srimat Tribuwanaraja Mauliwarmadewa  berputra   :
       1.Adityawarman  yg menikah dengan Putri Reno Dewi Jalito (putri Jamilah),
 Adityawarman berputra :
        1.Ananngawarman  yang menikah dengan Putri Reno Dewi berputra:
1.Putri Sipanjang Rambut I dan

2.Putri Silindung Bulan (Putri Reno Bungsu),..Putri Reno Bungsu menikah dengan Dewang Putuano (gelar Tuanko Marajo Sati I) berputra:
1.Putri Sipanjang Rambuik II (gelar Yang Dipertuan Putri Rajo Alam Minangkabau/ Bundo    Kanduang )
2.Tuanku Rajo Bagindo gelar Rajo Mudo (Rajo Sekalawi gelar Rajo Mudo Rajo Megat Sutan Saktai Rajo Jonggor), 
Putri Sipanjang Rambuik II menikah dengan Hyang Indojati/Bujang Salamat, berputra:
1. Sultan Remondung gelar Dang Tuanku Syah Alam   
Rajo Mudo gelar Rajo Mudo Rajo Megat Rajo Jonggor (Raja Jang Tiang Pat ke I di Renah Sekalawi (sekarang kab.Lebong) menikah dengan Putri Gilang (saudara Rio Bitang), berputra:
1. Putri Bungsu
2. Putri Senggang
3. Tuan Setio Kelawang
Sultan Remendung Dang Tuanku Syah Alam menikah dengan Puti Bungsu binti Rajo Mudo (saudara sepupu dr ibu)..Sultan Remendung berputra :

1. Sutan Sarduni  (Rajo Jang Tiang Pat ke II gelar Rio Mawang, Renah Sekalawi (kab. Lebong)
2. Putri Sariduni   (ikut dg orangtuanya)
Sutan Sarduni gelar Rio Mawang menikah dengan Putri Sindaraya (saudara Rio Malang di Pelabai ) berputra:

1. Ki Geto (ke Merigi)
2. Ki Tago (Ke Pasmah)
3. Ki Ain (ke Pasemah membentuk suku rejang pasemah)
4. Ki Genain ( Ke Pugung Krui, Lampung Barat)
5. Ki Nio (pergi ke Lampung pesisir lampung Barat)
6. Karang Nio (Rajo Tiang Pat ke III, gelar Hepnulillah, di renah sekalawi)
7. Serindang Bulen (Sebei Lebong)..menikah dengan Setio Barat rajo Indropuro

Karang Nio menikah dengan Dayang Rangginang berputra:
1. Ki Pati gelar Setio Merah Depati (tubei Suku VIII)
2. Ki Pandan (Rajo Tiang Pat ke IV gelar Ki Rajo Girang, tubei suku IX)
3. Putri Jinar Anom menikah dengan Rio Taun

4. Putri Batang Hari

Ki Setio Merah Depati  (pimpinan tubei suku VIII) berputra:
1. Rio Cendeh (ke Pasmah,sumsel)
2. Rio Ulung  (tewas)
3. Putri Bunga Melur (putri Tubei Anyut) (ke air Serayo Ketahun)
4. Rio Mambau/Memboa (tewas)
5. Rio Mudo (Rio Guting)
6. Rio Celik/Cili (ke Pasmah)
7. Rio Fijar (di Kutei usang Semelako Pimpinan Sk. VIII)
8. Rio Bas  (raib)

K Pandan gelar Ki Rajo Girang/Raden Girang raja jang Tiang Pat ke IV, sekalawi berputra:

1. Damung Alai di Tunggang
2. Damung Samir (raib)
3. Damung Pengawet (rawas)
4. Damung Gugur (rawas)
5. Damung Rambut Sekilan (pesisir Ipuh)
6. Bujang Riki ( Anak angkat)
7. Bagindo Lebong Lekat
8. Bagindo Bujang Gentar Alam
9. Muning Gaduk ke pesisir
10.Dayang Jenain
11.Dayang Ketupang
12.Dayang Resija/Dayang Sia

Rio Pijar (Ketua Tubei Suku VIII, pesireak Semelako) berputra:

1. Bagindo Karang Dapo
2. Ki Depati (pesireak Semelako)
3. PR.di Karang Dapo
4. Ki Buto di Karang Dapo
5. Ki Butai Karang Dapo

Ki Depati (pesirah semelako) berputra:
1. Ki Gemelar di Pungguk Pedaro
2. Sultan Mohmd. Pungguk Pedaro
3.Bagindo Lang dilaman di Pg.Pedaro
4. Ki Gede di Bungin
5. Ki Anak Dalam di Bungin
6. Ki Betuan gelar depati Kemala Ratu Pesirah Semelako,

Ki Betuan gelar Depati Kemala ratu pesireak semelako berputra:
1. Depati Ilang di Mesjid (Pesireak)
2. Ki Mas
3. Ki Agung
4. Ki Gemelar (pesireak Semelako)

Ki Gemelar (pesireak Semelako) berputra:
1. Singo Depati Singo Patai (pesireak suku VIII)
2. Ki Lebe Pesireak Suku IX
3. Seriano gelar Kemanten

Ki Lebe pesireak sk IX berputra:
1. Megat Singo Jayo  Pesrieak Suku VIII
2. Depati Ratu Pesireak
3. Kemalo Rura
4. Bace

Depati Ratu Pesireak Suku VIII berputra:

1. Guru Tua (pesireak semelako sk VIII)
2. Rajo Mudo
Guru Tua berputra :
1. Jebarab
2. To’a
Jebarab berputra:
Kulon di tapus (depati jurukalang )

To’o berputra : Pagi

Depati Kulon berputra:
1. Rinbggis
2. Depati Lukis (pesirah suku VIII semelako)
3. Giris
4. Waris
5. Rani
6.Suri
Ringgis berputra:
1. Olos
2. Salan..

Salan Berputra:
1. Dawa di semelako
2. Jela Sukau Kayo
3. Giman di Ujung Tanjung
4. Manda di Muara Ketayu
5. Jai
6. Senura di semelako
7. Remian di Semelako
8. Gisan di Semelako
9.Remisan di Semelako

Dawa di Semelako berputra:

1. Rebaa di Semelako
2. Rindu di Semelako
3. Tirra di Semelako
4. Rina di Ujung Tanjung
5. Ali Kra di Smelako

Rebaa berputra:
1. Rebakya di Muara Aman
2. Samaina di Semelako (camat di Lebong Selatan 1950)
3. Suhaina di Semelako
4.Ali Rema di Semelako
5. Rakya di Semelako
6. Jenisa di Semelako
7. Rahma di Semelako
8. Abdul Hamid di Semelako
9. Nopisah di Semelako
10. Rahana di Semelako

Samaina berputra:
1. Umi Salma
2. Salina
3.Abdul Muis

 Abdul Muis berputra:
1. Syurkati
2. Saleha
3. Marzuki
4. Mariatulhawa
5.Drs.Rozali Muis
6.Rusman Effendi SH
7.Nurlela
8.Ernawati A.MaPd (alm)
9.Drs. Azhari Muis

Mariatulhawa Muis berputra:
1. Drs. M Herlansyah
2. Indah Sari Kencanawati Sholeh. S.SOS
3. Nana Diana Mustika
4. Ahmad Yayan Afriansyah SH
5. Dewi Kartika Sari, Amd

Indah Sari k Soleh berputra:
1. Muhammad Reihan Adjie Ar Rafi Gitundaou
2. Annissa Rizki Sholinda Puti

 

 

 

 

 

 

 

 

           
             

Posted in Uncategorized | Leave a comment

rekan jejak sultan remendung .

Kalaulah dikilas balik kisah cindur mato maka yang akan nampak adalah sisi kepahlawan Sultan Remendung gelar Dang Tuanku Syah Alam..yang dikatakan mengkirab bersama bundanya Bundo Kanduang,  dan istrinya Puti Bungsu putri Rajo Mudo gelar Rajo Megat SUtan Saktai Rajo Jonggor Raja di Renah Sekalawi.(sekarang Lebong), dengan  tujuan agar stabilitas kerajaan pagaruyung tetap terjaga.hingga tak terjadi pertempuran yang melibatkan rakyat,Kisah kelanjutan perjalanan Dang Tuanku Sultan Remendung akhirnya tak terekam sejarah pagaruyung..hingga sekarang………

Dikisahkan……dalam kisah…

CINDUR MATO

Pada saat pemerintahan Bundo Kanduang cicit dari Adityawarman yang bertahta di Pagaruyung, menghadapi kemelut dengan Tiang Bungkuk penguasa negeri Sungai Ngiang, dengan pasal hendak dikawinkannya putranya Rangkayo Imbang Jayo dengan Puti Bungsu anak Rajo Mudo ( gelar bagindo Rajo Megat Sutan Saktai Rajo Jonggor)  , raja di Renah Sekalawi (sekarang Kab.Lebong). Puti Bungsu sudah ditunangkan sejak masih dalam kandungan ibunya dengan sepupunya sendiri Dang Tuanku Sultan Remendung.. Rajo Mudo Rajo Megat adik kandung dari Bundo Kanduang. Keputusan yang sepihak itu tak dapat diterima oleh Dang Tuanku Sultan Remendung. ia memerintahkan adik sepupunya Cindur Mato putra Kambang Bandohari (juru kunci) Istana Pagaruyung  yang sekaligus pembawa kabar tsb ke ranah pagaruyung, untuk segera bertindak. Hingga mereka bersegera menuju Renah Sekalawi. Dalam perjalanan itu Cindur Mato menunggang kabau Sibenuang, aral pun banyak ditemui sepanjang perjalanan menuju ke Sekalawi, mulai dari serangan penyamun, dan medan alam yang tak bersahabat, terutama  aral di bukit Tambun Tulang dengan banyaknya lebah penyengat, dan aral-aral  kecil lain yang disebabkan oleh orang-orang suruhan Rangkayo Imbang Jayo untuk menghalangi kedatangan mereka ke Renah Sekalawi.

Sementara pernikahan itu disetujui oleh Bagindo Rajo Mudo Rajo Megat karena tersebar issu yang dihembus-hembuskan oleh orang-orang suruhan  Rangkayo Imbang Jayo kalau Dang Tuanku Sultan Remendung terkena penyakit kulit yang hebat hingga harus diasingkan ke hutan belantara. Rajo Mudo Rajo Megat menerima kedatangan Dang Tuanku Sultan Remendung dan Bundo Kanduang dengan senang hati sebagai kunjungan kerabat dari pagaruyung yang akan menghadiri pesta pernikahan kemenakannya, Bagindo Rajo Mudo terkejut melihat ketampanan Dang Tuanku Sultan Remendung tanpa sedikitpun penyakit kulit seperti yang diisukan itu, namun rencana pernikahan tak dapat dielak.Hingga Dang Tuanku Remendung memutuskan jalan pintas dengan memerintahkan adiknya membawa lari sang pengantin wanita,dan Cindur Mato berhasil menculik Puti Bungsu dan membawanya ke Pagaruyung  Dan  ternyata Puti bungsu ikut bersama Cindur Mato atas keinginannya bukan diculik tapi ingin diculik setelah mendengar pesan dari Sultan Remendung perihal perjodohan mereka semenjak masih diperut ibunya..Bahkan Rajo Mudo pun mengetahui rencana itu dan berpura-pura tidak mengetahuinya, mengingat sifat jelek rangkayo Imbang Jayo, sungguh tak ingin ia nikahkan putrinya dengannya. Akhirnya  keputusan Basa Ampek Balai  menyetujui pernikahan mereka, dengan disetujui Bundo Kanduang Dang Tuanku pun dinikahkan dengan Puti Bungsu.

Sementara itu di pinggir negeri Sungai Ngiyang, suasana semakin memanas atas perlakuan Cindur Mato. Malu dan bercampur marah, membuat keputusan Rangkayo Imbang Jayo membawa pasukan menuju Pagaruyung, seraya berucap dengan lantang “Cindua Mato Harus di bunuh, Puti Bungsu harus dibawa kembali ke negeri Sungai Ngiyang”..penuh amarah dan kebencian yang sangat dalam. Imbang Jayo belumlah paham bila Puti Bungsu diculik atas perintah Dang Tuanku Sultan Remendung. Mendengar itu Bundo Kanduang segera bertindak, maka  di Istana Pagaruyung pun mengadakan musyawarah besar, hadir Rajo Duo Selo, Basa Ampek  Balai, masyarakat Pagaruyung.Hasil musyawarah itu memerintahkan Cindur Mato untuk mengasingkan diri ke negeri Pagar Dewa- Indropuro , yang keramat yang masih dikuasai oleh waris Rajo Indo Jati yang merupakan tali persaudaraan Ibu dari Bundo  Kanduang sendiri, yang konon di anggap memiliki penjaga dari orang bunian.

Setelah kepergian Cindur Mato ke pengungsiannya di negeri Pagar Dewa  Indropuro, pasukan Rangkayo Imbang Jayo datang menyerang ke Pagaruyung. Serangan itu pun dihadapi dengan gagah oleh masyarakat pagaruruyung yang otomatis menjadi pasukan istana di pimpin oleh Basa Ampek Balai, dan Rajo Duo Selo (dua orang rajo adat dan ibadat). Dalam pertempuran itu pasukan rangkayo Imbang Jayo berhasil dipukul mundur dengan tewasnya Imbang Jayo ditangan Rajo Duo Selo, pasukan Imbang Jayo banyak yang terbunuh. Sisa pasukan Imbang Jayo yang masih hidup pulang ke negeri Sungai Ngiyang. Mendengar berita atas kematian anaknya, Raja Tiang bungkuk pun arah besar, apalagi terdengar berita calon menantunya sudah dinikahi oleh Sultan Remendung, kemarahannya pun semakin memuncak, dengan mengatakan bahwa bumi pagaruyung akan dibumi hanguskan, hingga banjir darah, putra makhota Dang Tuanku Sultan Remendung gelar Syah Alam harus dibunuh sebagai ganti nyawa anaknya. Dan berita kemarahan itu pun sampai pula ke Istana Pagaruyung.

Di Istana Pagaruyung, musyawarah besar kembali diadakan, bila sebelumnya Cindur Mato diungsikan dari kejaran Rangkayo Imbang Jayo, maka Bundo Kanduang memerintahkannya untuk segera kembali. Bundo Kanduang yang arief memutuskan untuk mengungsi dari istana bersama putra makhotanya beserta menantunya, untuk menghindari pertumpahan darah dan menjaga stabilitas Istana Pagaruyung dari kehancuran akibat pertempuran yang akan melibatkan rakyat banyak. Namun untuk menghindari kejaran dari Tuanku Raja Tiang Bungkuk, Bundo Kanduang memerintahkan kerabat di Istana Pagaruyung untuk mengabarkan kepada rakyatnya bahwa beliau sudah menghilang naik ke langit (mengkirab), dengan harapan Raja Tiang Bungkuk pun akan berhenti untuk mencari mereka lagi. Untuk mengisi kekosongan tampuk pimpinan di Istana Pagaruyung, Bundo Kanduang memerintahkan Cindur Mato naik tahta menggantikan putra makhota Remendung gelar Dang Tuanku Syah Alam. Bundo Kanduangpun beserta anak menantu pergi ke negeri Pagar Dewa, daerah asal puyangnya.

Setelah kepergian Bundo Kanduang, Cindur Mato memerintah di Istana Pagaruyung, dia sangat memutar otaknya agar bisa terlepas dari pertumpahan darah,.Tersiar kabar bahwa Raja Tiang Bungkuk sangat sakti dan tak terkalahkan karena tak mempan senjata apa pun.Setelah memutar otak sedemikian rupa diputuskannya untuk berpura-pura menjadi orang bodoh saja, dengan harapan ia akan ditangkap oleh Tiang Bungkuk, dan ia akan mencari tahu kelemahannya kelak dan Cindur Mato berpesan kepada rakyatnya perihal Bundo Kanduang dan Sultan Remendung beserta Puti Bungsu kalau sudah mengkirab ke langit bila kelak ada yang mencari tahu tentang mereka suatu hari nanti, dan rakyat diperintahkan untuk menghindari mengadakan keramaian, agar suasana sepi dan kesedihanpun akan tampak.

 

  Dan tak berapa lama kemudian pasukan Raja Tiang Bungkuk pun datang memasuki wilayah Istana Pagaruyung untuk memenggal kepala Sultan Remendung dan membumi hanguskan Istana Pagaruyung. Namun sayang kedatangan mereka tak disambut oleh siapapun, kota Nampak sunyi.Seperti diliputi oleh kesedihan yang teramat sangat. Raja Tiang Bungkuk pun bisa masuk hingga sampai di pintu istana, tapi Tiang Bungkuk hanya menjumpai Cindur Mato yang duduk di singgasana raja seperti orang yang bodoh perilakunya.

Raja Tiang Bungkuk pun menjadi kesal, dan bertanya dengan suara yang sangat keras.

‘Hai Cindur Mato, dimana kah Sultan Remendung? Karena aku akan memenggal kepalanya, hutang nyawa dibayar nyawa..” Cindur Mato tak bergeming dari duduknya yang Nampak seperti orang bodoh, ia hanya berkata..

“Maaf Tuanku Rajo, hamba tak tahu apa yang tuan cari hatiku sedang tak berselera sebab Bundo Kanduang, beserta Kakanda Remendung dan menantunya Puti Bungsu sudah mengkirab ke langit. Sedih hatiku ini..tak ada lagi yang menemani..hiks hiks hiks..” Cindur Mato pun pura-pura menangis seperti anak kecil yang kehilangan kakak dan ibunya..

Mendengar itu terperanjatlah Raja Tiang Bungkuk, namun ia tak percaya begitu saja, dengan menyeret Cindur Mati ia memeriksa seluruh ruangan di Istana Pagaruyung, dan memerintahkan pasukannya mencari tahu di luar istana info dari masyarakat di sana. Hasilnya pun sama..mereka sudah mengkirab ke langit.Akhirnya..

“Baiklah, tak kudapatkan Remendung dan Puti Bungsu, maka engkau saja gantinya, pengawal tangkap dia. Biar dia kujadikan budak di istanaku, Huh!’penuh kejengkelan ia kembali ke Sungau Ngiyang dengan Cindur Mato sebagai tawanan budaknya.

Di Sungai Ngiyang, Cindur Mato bekerja seperti budak belian, mengangkat barang keperluan rumah tangga hingga menjadi tukang pijit dengan sangat rajin dan berbudi meski berperilaku agak bodoh. Sikap bodoh yang polos Cindur Mato pun berhasil mengambil hati  Tiang Bungkuk, hingga dianggap seperti anak sendiri. tidur.Hingga suatu hari, saat memijit, Tiang Bungkuk , Cindur Mato mencari tahu kelemahan Raja Tiang Bungkuk. Tiang Bungkuk pun bercerita soal kesaktiannya ketika itu beliau sedang di pijit oleh Cindur Mato. Ia mengatakan kelemahannya ialah bila ditusukan ke ulu hatinya keris yang terletak di Tiang Bungkuk (tiang yang berbentuk bengkok2). Dirumahnya. Itu satu-satunya cara untuk bisa melumpuhkannya.Akhirnya niat ini pun terlaksana, Tiang Bungkuk mati terbunuh ditangan Cindur Mato.Untuk menebus kesalahannya Cindur Mato menikahi Putri Tiang Bungkuk,Puti Ranik Jitan meski sebenarnya Cindur Mato sudah bertunang dengan Putri Lenggo Geni. Kemudian Cindur Mato meninggalkan negeri Sungai Ngiyang menuju Pagaruyung.Putri Ranik Jitan ditinggalkan di negeri Sungai Ngiyang dan telah dikarunia seorang putra.

Setibanya Cindur Mato di Pagaruyung, dengan membawa kabar gembira karena telah bisa menaklukan penguasa sungai Ngiyang, maka rencana pernikahannya dengan Putri Lenggo Geni pun segera dilaksanakan. Kemudian mandatnya sebagai pengganti Dang Tuanku Remendung sebagai raja alam minangkabau di Istana Pagaruyung ia pegang selama beberapa tahun.

Sementara itu Sultan Remendung beserta istri dan Ibunya menetap di negeri Pagar Dewa Indropuro, dan naik tahta menggantikan pamanya.Ia mempunyai dua orang anak, yaitu Sutan Sarduni dan Putri Sariduni.  Akan tetapi Cindur Mato kemudian berniat untuk ikut dengan Bundo Kanduang beserta ibunya Kambang Bandohari ke negri Pagar Dewa Indropuro, di usia yang sudah tua, dan wafat di sana. Sementara itu Sutan Sarduni saat dewasa pergi mencari jejak kakeknya Rajo Mudo ayahanda Puti Bungsu ibundanya ..yang terdengar kabar dari sang bunda menjadi raja di Renah Sekalawi.

 

 

(dari berbagai sumber)

Posted in Uncategorized | Leave a comment

MENGUAK SILSILAH SULTAN REMENDUNG GELAR DANG TUANKU SYAH ALAM PUTRO BUNDO KANDUANG PAGARUYUNG (PUTI SIPANJANG RAMBUT 2)

MENGUAK SILSILAH SULTAN REMENDUNG GELAR  DANG TUANKU SYAH ALAM PUTRO BUNDO KANDUANG PAGARUYUNG (PUTI SIPANJANG RAMBUT 2)

Image | Posted on by | 3 Comments